Ramadhan tahun ini saya lewatkan bersama keluarga di rumah. Meskipun agak membosankan, tapi saya merasa lebih mudah untuk mengontrol diri dibandingkan dengan ketika menjalankan puasa di Jogja. Saya masih ingat, bagaimana susahnya menjalankan puasa di kos-kosan. Mau berangkat tarawih beratnya minta ampun, padahal masjid cuma beberapa meter jaraknya. Mau beli sahur malasnya minta ampun, padahal ke warung cuma lima menit. Belum lagi suasana di kampus. Niatnya sih baik, ke kampus untuk kuliah biar puasa ngga terasa, tapi sampai di kampus mata kita sudah di'bombardir' dengan pemandangan para cewek dengan busana ketat, apalagi saya kuliah di fakultas psikologi yang notabene banyak ceweknya, hampir impossible untuk menghindarkan pemandangan yang demikian. Singkat kata, suasana puasa di Jogja hampir tidak memiliki kesan apapun pada dimensi spiritual saya (wadoww). Saya ini bukan orang yang religius (lulusan pondok dsb), tapi saya tetep ingin di bulan ramadhan saya bisa membasuh jiwa saya yang kotor dimakan gemerlapnya dunia di bulan-bulan lain. Salahsatu caranya ya dengan menjalankan ibadah puasa dengan benar, dan itu saya dapatkan di rumah.
Saya tinggal di pinggiran kota (kabupaten), jadi akses menuju tempat hiburan sangat minim. Meskipun kedengarannya membosankan, tapi suasana seperti ini sangat kondusif bagi saya yang menginginkan bisa melaksanakan puasa dengan baik. Saya bisa rutin tarawih, atau subuh berjamaah di masjid. Mata saya juga ngga bisa jelalatan lihat 'pemandangan' seperti yang biasa ada di kota. Kondisi di rumah juga lebih tenang, lebih dingin, istilah orang jawa lebih ayem. Malamnya, speaker toa yang terpasang di musholla-musholla desa, menyuarakan orang yang sedang tadarus. Ada anak kecil, ada bapak-bapak, saling bersahut-sahutan membuat ramai suasana malam, dan kadang, membuat saya tersenyum sendiri. Bikin hati jadi merasa kangen..
Saya merasa beruntung diberi kesempatan sama Gusti Alloh untuk bisa kembali menjalankan puasa di rumah. Masih diberi kesempatan untuk ndandani kesalahan yang saya perbuat di masa lalu sekaligus melepas dahaga jiwa. Saya berharap, semoga njenengan sekalian bisa mendapatkan ketentraman hati selama bulan ramadhan ini, dimanapun njenengan sekalian berpuasa..
Minggu, 07 September 2008
Jumat, 05 September 2008
Operating Systems Alternatives..
Saya adalah fulltimer Linux (dengan distro Ubuntu). Saya merasa bahwa Ubuntu telah bisa memenuhi kebutuhan saya sehari-hari dan jika dibandingkan jaman saya pake XP atau Vista (bajakan) dulu, Ubuntu lebih mudah perawatannya, ngga repot, dan tentu saja..NO BSOD!!!! Tapi saya mau mencoba objektif. Saya sadar bahwa setiap OS memiliki kelebihan dan kelemahannya sendiri serta ciri khas dalam bidang tertentu. Tulisan ini saya buat dengan harapan njenengan bisa memutuskan apakah memakai Linux adalah keputusan yang tepat.
1. Microsoft Windows (XP, Vista)
Windows adalah produk dari Microsoft. Saat ini Windows yang umum dipakai oleh masyarakat adalah windows XP (home, professional) dan Windows Vista (home basic, home premium, bussiness, ultimate). License dari Windows dihargai mulai dari Rp. 1,5 jt – 3 jtaan tergantung dari jenisnya. Kelebihan dari Windows adalah karena ia mendominasi pasar OS dunia (sekitar 90%), maka aplikasi yang bisa diinstall di Windows juga sangat beragam. Kelemahannya, windows rentan sekali terhadap virus, trojan, dan BSOD ( ^_^!). Windows cocok bagi anda yang : menggunakan software tertentu yang hanya bisa berjalan di Windows (SPSS ?), akunting perusahaan (untuk mengisi form e-SPT dari pemerintah yang hanya jalan di windows), atau gamer kelas berat (Gears of War, Assassin Creed, game-game mmorpg, etc).
2. Apple Macintosh (Leopard)
Orang sering menganalogikan Mac dengan “kemudahan UI windows dengan keamanan tingkat Unix”. Apple melakukan penelitian yang mendalam untuk mendapatkan design GUI nya hingga seperti sekarang ini. Banyak pemakai Apple yang sangat bangga (cenderung fanboys) terhadap brand Apple, dan mereka menganggap bahwa pengguna Apple merupakan kaum elit di kancah dunia perkomputeran. Saat ini, OS terbaru dari Apple adalah OS X 10.5 dengan codename Leopard. Dibanderol dengan harga 1 – 2jtaan, Leopard biasanya hanya akan berjalan mulus jika diinstall ke hardware produksi Apple sendiri (Macbook, Macbook Pro, iMac, dll). Kekuatan utama Mac adalah pada multimedia processingnya (grafis, audio, dan video). Meskipun banyak yang menganggap kalau Mac merupakan produk tanpa cacat, tapi menurut saya ada satu kelemahan produk Apple ini, yaitu HARGANE (larang tennann...). Terakhir saya tahu, harga Macbook (produk laptop Apple yang paling murah) dihargai Rp. 11 jtaan, belum macbook pro, tidak terjangkau kantong sebagian besar mahasiswa.. (^_^!). Apple Mac cocok bagi anda yang : anak orang kaya, eksmud, punya kelainan narsisme yang amat sangat, suka menyombongkan diri, (serius) designer grafis / fotgrafer professional, pekerja di bidang audio dan video.
3. Linux
My fav OS!! Linux terkenal karena stabilitas dan sekuritinya (dan juga harganya yang gratis). Meskipun tidak nampak di permukaan, sebenarnya pengguna linux jauh lebih banyak dari yang diperkirakan. Linux merajai di sektor server (mac tidak bisa berbuat banyak di bidang ini), dan sekarang Linux mulai mengambil alih posisi Windows di sektor desktop untuk pengguna rumahan (terutama di Eropa dengan beberapa distro tertentu seperti Ubuntu, Linux Mint, openSUSE, mandriva, dll). Kelebihan utama linux adalah keamanannnya, dimana Linux kebal terhadap virus dan konco-konconya. Hal ini dikarenakan Linux menerapkan sistem root/superuser mode untuk mengakses file-file system. Meskipun semakin user friendly, beberapa pengguna masih merasakan kesulitan menggunakan Linux dikarenakan Linux tidak mensupport beberapa hardware yang mereka gunakan. Hal ini bukanlah 100% kesalahan dari Linux melainkan dari produsen hardware yang tidak mau menyediakan driver hardware bagi Linux. Selain itu, beberapa kalangan mengkritisi kurangnya software multimedia processing yang benar-benar powerfull di Linux. Hal ini diakui beberapa member ubuntuforums yang terpaksa menginstall windows atau mac di komputer mereka hanya untuk graphic, video, and audio processing. Berdasarkan pengamatan saya, Linux cocok untuk anda para server administrator, user yang tidak berkutat di bidang multimedia secara professional, non hardcore gamer, average user, internet junkie, dan adventurer ;).
Well, there you go. Kelebihan dan kelemahan beberapa OS yang populer digunakan oleh masyarakat umum. Bagi anda yang ingin menyoba Linux tapi masih takut untuk kehilangan windows atau mac bisa melakukan dual boot atau menginstall Virtual Machine (VMware, Virtualbox) di komputer anda, sehingga njenegan bisa mendapatkan sistem operasi yang paling cocok untuk kebutuhan njenengan saat ini.
1. Microsoft Windows (XP, Vista)
Windows adalah produk dari Microsoft. Saat ini Windows yang umum dipakai oleh masyarakat adalah windows XP (home, professional) dan Windows Vista (home basic, home premium, bussiness, ultimate). License dari Windows dihargai mulai dari Rp. 1,5 jt – 3 jtaan tergantung dari jenisnya. Kelebihan dari Windows adalah karena ia mendominasi pasar OS dunia (sekitar 90%), maka aplikasi yang bisa diinstall di Windows juga sangat beragam. Kelemahannya, windows rentan sekali terhadap virus, trojan, dan BSOD ( ^_^!). Windows cocok bagi anda yang : menggunakan software tertentu yang hanya bisa berjalan di Windows (SPSS ?), akunting perusahaan (untuk mengisi form e-SPT dari pemerintah yang hanya jalan di windows), atau gamer kelas berat (Gears of War, Assassin Creed, game-game mmorpg, etc).
2. Apple Macintosh (Leopard)
Orang sering menganalogikan Mac dengan “kemudahan UI windows dengan keamanan tingkat Unix”. Apple melakukan penelitian yang mendalam untuk mendapatkan design GUI nya hingga seperti sekarang ini. Banyak pemakai Apple yang sangat bangga (cenderung fanboys) terhadap brand Apple, dan mereka menganggap bahwa pengguna Apple merupakan kaum elit di kancah dunia perkomputeran. Saat ini, OS terbaru dari Apple adalah OS X 10.5 dengan codename Leopard. Dibanderol dengan harga 1 – 2jtaan, Leopard biasanya hanya akan berjalan mulus jika diinstall ke hardware produksi Apple sendiri (Macbook, Macbook Pro, iMac, dll). Kekuatan utama Mac adalah pada multimedia processingnya (grafis, audio, dan video). Meskipun banyak yang menganggap kalau Mac merupakan produk tanpa cacat, tapi menurut saya ada satu kelemahan produk Apple ini, yaitu HARGANE (larang tennann...). Terakhir saya tahu, harga Macbook (produk laptop Apple yang paling murah) dihargai Rp. 11 jtaan, belum macbook pro, tidak terjangkau kantong sebagian besar mahasiswa.. (^_^!). Apple Mac cocok bagi anda yang : anak orang kaya, eksmud, punya kelainan narsisme yang amat sangat, suka menyombongkan diri, (serius) designer grafis / fotgrafer professional, pekerja di bidang audio dan video.
3. Linux
My fav OS!! Linux terkenal karena stabilitas dan sekuritinya (dan juga harganya yang gratis). Meskipun tidak nampak di permukaan, sebenarnya pengguna linux jauh lebih banyak dari yang diperkirakan. Linux merajai di sektor server (mac tidak bisa berbuat banyak di bidang ini), dan sekarang Linux mulai mengambil alih posisi Windows di sektor desktop untuk pengguna rumahan (terutama di Eropa dengan beberapa distro tertentu seperti Ubuntu, Linux Mint, openSUSE, mandriva, dll). Kelebihan utama linux adalah keamanannnya, dimana Linux kebal terhadap virus dan konco-konconya. Hal ini dikarenakan Linux menerapkan sistem root/superuser mode untuk mengakses file-file system. Meskipun semakin user friendly, beberapa pengguna masih merasakan kesulitan menggunakan Linux dikarenakan Linux tidak mensupport beberapa hardware yang mereka gunakan. Hal ini bukanlah 100% kesalahan dari Linux melainkan dari produsen hardware yang tidak mau menyediakan driver hardware bagi Linux. Selain itu, beberapa kalangan mengkritisi kurangnya software multimedia processing yang benar-benar powerfull di Linux. Hal ini diakui beberapa member ubuntuforums yang terpaksa menginstall windows atau mac di komputer mereka hanya untuk graphic, video, and audio processing. Berdasarkan pengamatan saya, Linux cocok untuk anda para server administrator, user yang tidak berkutat di bidang multimedia secara professional, non hardcore gamer, average user, internet junkie, dan adventurer ;).
Well, there you go. Kelebihan dan kelemahan beberapa OS yang populer digunakan oleh masyarakat umum. Bagi anda yang ingin menyoba Linux tapi masih takut untuk kehilangan windows atau mac bisa melakukan dual boot atau menginstall Virtual Machine (VMware, Virtualbox) di komputer anda, sehingga njenegan bisa mendapatkan sistem operasi yang paling cocok untuk kebutuhan njenengan saat ini.
Rabu, 03 September 2008
Hello. my name is Linux ^_^
As a proud Ubuntu user, saya mencoba untuk menghormati distro dan OS lain. Saya ini bukan Ubuntu atau Linux fanboys yang sembarangan nge bash distro lain atau produk Microsoft Windows di berbagai forum. Saya hormat dengan Windows, dan saya juga yakin kalo dominasi windows terhadap dunia tidak melulu disebabkan oleh strategi marketing mereka yang kadang urik. Saya ngefans sama Apple, dan saya anggap produk mereka merupakan hasil seni, lifestyle, yang bisa menaikkan derajat njenengan beberapa tingkat waktu hotspotan di starbucks :). Sayangnya saya ngga punya cukup duwit untuk beli produk mereka yang sangat eksklusif sekali (silahkan saja njenengan coba install Leopard ke laptop atau pc biasa, dijamin ngga muluss). Akhirnya, karena saya : 1. nda mau pake windows bajakan (takut laptopnya dirazia), 2. eman untuk keluar uang buat beli lisensi windows asli, 3. ngga punya duwit untuk beli macbook (hiks, macbook, my everlasting dream), maka saya beralih ke Linux, dan jujur, saya nda pernah sekalipun pengen coba lagi install windows di laptop saya ini.
Penasaran dengan Linux? mari saya kenalkan :D. Linux bukanlah sistem operasi secara keseluruhan (banyak perdebatan soal ini, mohon dikoreksi jika salah..). Ia merupakan kernel, jembatan penghubung, moderator antara hardware anda dengan sistem operasi (mungkin kalo di Windows registrinya kali ya? atau dll? atau inf? mohon maaf sekali lagi jika salah..). Oleh penciptanya (Linus Torvalds), Linux dibebaskan dari segala macam komersialisasi alias gratisss tis tiss. Saat ini mungkin ada yang ngomong, la kemaren saya beli cd linux di studio one tetep bayar. Eitss, jangan salah boss, yang anda bayar itu bukan Linuxnya atau distronya, tapi biaya ganti cd sama laba dari studio one sendiri. Uang njenengan ngga pernah sampai ke abang Linus atau ke distributor yang bersangkutan.
Dikarenakan sifatnya yang gratis, banyak hacker yang penasaran dengan Linux ini, kemudian mencoba untuk mengkustomisasinya sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri. Inilah yang kemudian disebut distro. Distro Linux bermacam jenisnya, ada yang sangat gampang (seperti Ubuntu, mandriva), sangat indah (openSUSE, dreamLinux), sangat sulit (slackware), sangat minimalis (ratpoison), dan sangat lain-lainnya (silahkan lihat www.distrowatch.com untuk referensi lebih lanjut). Rata-rata dari distro ini juga bersifat gratis. Mungkin ada yang ngacung trus bertanya, la itu di websitenya mandriva ato openSUSE ko ada yang versi berbayar? Nah, yang versi berbayar biasanya dilengkapi dengan software nonfree (semisal dvd codecs atau windows media codec), ataupun costumer service. Jadi Linux nya sendiri tetep gratis, uang yang anda bayarkan ya untuk pelayanan ekstra dari distro yang bersangkutan.
Selain pilihan distro yang variatif, Linux juga menawarakan berbagai macam Desktop Environment. Ini merupakan lingkungan kerja di komputer njenengan, tempatnya berbagai macam icon, wallpaper, dsb. Kalau di Windows kita kenalnya ya cuma satu itu, dengan Start Button (XP) atau Windows Orb (vista), sistem tray, wallpaper bliss atau aurora, dll. Trus kalo di mac ya ada panelnya, docknya, etc. Kalau di Linux kita bisa milih Desktop kita, mau yang simpel (gnome), atau yang mewah (KDE 4.1), yang ringan (XFCE, enlightenment) atau bahkan yang super ringan (fluxbox, openbox, dll).
Too much choice? Bingung dengan pilihan anda? Silahkan anda kunjungi website masing-masing distro atau dekstop environment untuk mengetahui which flavor are you.. Happy exploring ^_^
* linux disini merupakan singkatan dari GNU/Linux
** content dari web yang bersangkutan merupakan hak cipta dari developer masing-masing, penulis tidak bertanggung jawab apabila ada gambar atau kalimat yang bisa dianggap offensif.
Penasaran dengan Linux? mari saya kenalkan :D. Linux bukanlah sistem operasi secara keseluruhan (banyak perdebatan soal ini, mohon dikoreksi jika salah..). Ia merupakan kernel, jembatan penghubung, moderator antara hardware anda dengan sistem operasi (mungkin kalo di Windows registrinya kali ya? atau dll? atau inf? mohon maaf sekali lagi jika salah..). Oleh penciptanya (Linus Torvalds), Linux dibebaskan dari segala macam komersialisasi alias gratisss tis tiss. Saat ini mungkin ada yang ngomong, la kemaren saya beli cd linux di studio one tetep bayar. Eitss, jangan salah boss, yang anda bayar itu bukan Linuxnya atau distronya, tapi biaya ganti cd sama laba dari studio one sendiri. Uang njenengan ngga pernah sampai ke abang Linus atau ke distributor yang bersangkutan.
Dikarenakan sifatnya yang gratis, banyak hacker yang penasaran dengan Linux ini, kemudian mencoba untuk mengkustomisasinya sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri. Inilah yang kemudian disebut distro. Distro Linux bermacam jenisnya, ada yang sangat gampang (seperti Ubuntu, mandriva), sangat indah (openSUSE, dreamLinux), sangat sulit (slackware), sangat minimalis (ratpoison), dan sangat lain-lainnya (silahkan lihat www.distrowatch.com untuk referensi lebih lanjut). Rata-rata dari distro ini juga bersifat gratis. Mungkin ada yang ngacung trus bertanya, la itu di websitenya mandriva ato openSUSE ko ada yang versi berbayar? Nah, yang versi berbayar biasanya dilengkapi dengan software nonfree (semisal dvd codecs atau windows media codec), ataupun costumer service. Jadi Linux nya sendiri tetep gratis, uang yang anda bayarkan ya untuk pelayanan ekstra dari distro yang bersangkutan.
Selain pilihan distro yang variatif, Linux juga menawarakan berbagai macam Desktop Environment. Ini merupakan lingkungan kerja di komputer njenengan, tempatnya berbagai macam icon, wallpaper, dsb. Kalau di Windows kita kenalnya ya cuma satu itu, dengan Start Button (XP) atau Windows Orb (vista), sistem tray, wallpaper bliss atau aurora, dll. Trus kalo di mac ya ada panelnya, docknya, etc. Kalau di Linux kita bisa milih Desktop kita, mau yang simpel (gnome), atau yang mewah (KDE 4.1), yang ringan (XFCE, enlightenment) atau bahkan yang super ringan (fluxbox, openbox, dll).
Too much choice? Bingung dengan pilihan anda? Silahkan anda kunjungi website masing-masing distro atau dekstop environment untuk mengetahui which flavor are you.. Happy exploring ^_^
* linux disini merupakan singkatan dari GNU/Linux
** content dari web yang bersangkutan merupakan hak cipta dari developer masing-masing, penulis tidak bertanggung jawab apabila ada gambar atau kalimat yang bisa dianggap offensif.
Ramadhan...
Saya ini bukan termasuk orang yang religius. Kehidupan beragama saya bisa dibilang biasa-biasa saja. Bagai sayur tanpa garam, istilahnya. Tapi entah kenapa setiap masuk bulan ramadhan, saya jadi sensitif soal agama. Saya jadi sering merenung, berpikir tentang tingkah laku saya di dunia ini. Apakah yang saya lakukan sudah benar? sudah cukupkah waktu saya untuk mengabdi kepada Tuhan? cukupkah amal perbuatan yang saya lakukan? dan sebagainya..
Ramadhan kali ini benar-benar menantang pikiran dan emosi saya. Saya sangat tergugah untuk membaca banyak literatur agama, namun di sisi lain setiap kalimat yang saya baca seolah-olah menunjukkan betapa saya tidak peduli tentang agama yang saya anut, betapa kurangnya pengetahuan saya tentang sejarahnya, dan betapa minimnya ibadah yang saya lakukan. Contohnya, saya baru tahu kalau ternyata ramadhan adalah bulan ke sembilan dari kalender hijriyah. Ironis sekali. Padahal tiap tahun saya melakukannya dengan suka cita, tapi tidak mau belajar tentangnya. Kalau dianalogikan seperti kita mau meminang seseorang tapi tidak tahu nama, keluarga, dan alamat orang yang akan kita lamar.
Saya lihat, selama ini ibadah dan kewajiban agama yang kita lakukan cenderung bersifat habbit, kebiasaan, wes kulino. Kita sholat karena dari dulu kita melihat orang tua kita sholat, kita puasa karena orang tua kita juga puasa, kita ngaji karena orang tua kita menitipkan kita ke tpa, etc. Bagi anak kecil, hal ini tentu wajar, toh mereka juga butuh figur yang bisa mereka tiru. Tapi apa iya kita selamanya mau meniru tanpa melakukan pembelajaran? Mau sampai kapan? Saya kira sudah saatnya, sebagai manusia dewasa, kita belajar lebih dalam mengenai ibadah yang kita lakukan. Mencoba untuk mengetahui intisari dari ibadah yang kita lakukan, mencoba untuk mempelajari sejarah agama yang kita anut, mencoba untuk lebih mengenal tokoh-tokoh penting yang berperan dalam menyebarluaskan agama, dan mencoba untuk lebih banyak merenungi perbuatan yang kita lakukan di dunia ini.
Sekali lagi, saya ini bukan orang yang religius, bukan ustadz, kyai, atau lulusan pondok pesantren. I'm an average man, sama seperti njenengan-njenengan sekalian. Tulisan yang saya bikin bukan bermaksud untuk menggurui. Saya cuma ingin sharing saja, toh para blogger sekalian juga melakukan hal yang sama kan? :D
Ramadhan kali ini benar-benar menantang pikiran dan emosi saya. Saya sangat tergugah untuk membaca banyak literatur agama, namun di sisi lain setiap kalimat yang saya baca seolah-olah menunjukkan betapa saya tidak peduli tentang agama yang saya anut, betapa kurangnya pengetahuan saya tentang sejarahnya, dan betapa minimnya ibadah yang saya lakukan. Contohnya, saya baru tahu kalau ternyata ramadhan adalah bulan ke sembilan dari kalender hijriyah. Ironis sekali. Padahal tiap tahun saya melakukannya dengan suka cita, tapi tidak mau belajar tentangnya. Kalau dianalogikan seperti kita mau meminang seseorang tapi tidak tahu nama, keluarga, dan alamat orang yang akan kita lamar.
Saya lihat, selama ini ibadah dan kewajiban agama yang kita lakukan cenderung bersifat habbit, kebiasaan, wes kulino. Kita sholat karena dari dulu kita melihat orang tua kita sholat, kita puasa karena orang tua kita juga puasa, kita ngaji karena orang tua kita menitipkan kita ke tpa, etc. Bagi anak kecil, hal ini tentu wajar, toh mereka juga butuh figur yang bisa mereka tiru. Tapi apa iya kita selamanya mau meniru tanpa melakukan pembelajaran? Mau sampai kapan? Saya kira sudah saatnya, sebagai manusia dewasa, kita belajar lebih dalam mengenai ibadah yang kita lakukan. Mencoba untuk mengetahui intisari dari ibadah yang kita lakukan, mencoba untuk mempelajari sejarah agama yang kita anut, mencoba untuk lebih mengenal tokoh-tokoh penting yang berperan dalam menyebarluaskan agama, dan mencoba untuk lebih banyak merenungi perbuatan yang kita lakukan di dunia ini.
Sekali lagi, saya ini bukan orang yang religius, bukan ustadz, kyai, atau lulusan pondok pesantren. I'm an average man, sama seperti njenengan-njenengan sekalian. Tulisan yang saya bikin bukan bermaksud untuk menggurui. Saya cuma ingin sharing saja, toh para blogger sekalian juga melakukan hal yang sama kan? :D
Selasa, 02 September 2008
Linux ? Gampang kok..
Saat saya membuka laptop saya dan mulai menjalankan beberapa program, tidak sedikit dari teman-teman saya yang gumun, heran, kok "windows" saya berbeda dengan punya mereka. Saya jelaskan, kalau saya ngga pake windows tapi linux. Biasanya temen-temen saya langsung bilang "wuih, canggih, linux kan susah.."
Kalau hal ini ditanyakan 5-6 tahun yang lalu (mungkin) memang ada benarnya. Saya masih ingat, pengalaman pertama install linux dengan distro red hat. Mau mount usb flash disk masih harus pake cli (command line interface), apa-apa harus pake cli, bahkan dulu saya sempat inget muter mp3 juga pake cli. Installnya juga susah. Bagi newbi seperti saya, hampir tidak mungkin bisa install linux tanpa buku panduan. Wis kadung kulino install windows. Tapi sekarang semua sudah berbeda..jauh berbeda.. Pengalaman saya mencoba beberapa distro linux membuktikan bahwa proses instalasi linux lebih mudah daripada windows (ingat, install windows lho, bukan install software di windows). Untuk lebih jelasnya, saya jelaskan per poin saja. BIOS sudah disetting agar boot pertama dari cd/dvd .
Install windows:
1. masukkan cd (bajakan)
2. lakukan proses partisi
3. tunggu beberapa saat, windows akan mengkopi file-file instalasi yang penting
4. ERROR!!! ganti cd
5. setelah error beberapa kali, akhirnya bisa, masuk ke gui installer
6. masukkan serial number (dulu saya sampai apal serial number ini...)
7. masuk windows
8. biasanya windows langsung meminta install bermacam-macam driver
9. cd driver vga card ilang, driver soundcard cd nya rusak, cd driver modem ntah kemana
10. mulai stress karena resolusi layar salah, tambah ngga bisa dengerin musik
11. karena ada kerjaan harus ngetik, pake program bawaan windows (wordpad) tidak mencukupi
12. nyari cd driver + office ke rental, ternyata rental tutup sedang ada razia software bajakan..
13. nangis..sambil misuh-misuh dalam hati..
seperti itulah kira-kira pengalaman saya dalam menginstall windows (xp). Berikutnya pengalaman install linux (kemarin install ubuntu 8.04)
1. masukkan cd
2. sistem langsung booting masuk ke desktop ubuntu (live cd)
3. ada icon di desktop bertuliskan install, di klik
4. sistem melakukan instalasi, dengan mengikuti petunjuk install tinggal klik next next
5. selesai, masuk ke desktop
6. ngga perlu setting apa-apa, apalagi install driver karena semuanya sudah terdeteksi secara otomatis
7. mau ngetik tinggal klik openoffice..
nah, ternyata jauh lebih mudah install linux..
Pengalaman di atas mungkin saja subyektif. Saya yakin sebagian besar teman-teman saya pasti tetep bilang lebih mudah install windows. Apalagi sekarang ini kalau kita beli komputer biasanya sudah diinstall windows (ntah bajakan atau original). Meskipun begitu, saya optimis, kalau dibiasakan pake linux, baru terasa kemudahannya. Dulu saat masih pake xp, kadang saya dipusingkan dengan virus (brontok sialan..). Belum lagi kebiasaan defrag dan install ulang beberapa bulan sekali. Semenjak beralih ke linux, saya ngga pernah lagu ngurusin yang begituan. Tinggal nyalain, jalan terus..
Kalau hal ini ditanyakan 5-6 tahun yang lalu (mungkin) memang ada benarnya. Saya masih ingat, pengalaman pertama install linux dengan distro red hat. Mau mount usb flash disk masih harus pake cli (command line interface), apa-apa harus pake cli, bahkan dulu saya sempat inget muter mp3 juga pake cli. Installnya juga susah. Bagi newbi seperti saya, hampir tidak mungkin bisa install linux tanpa buku panduan. Wis kadung kulino install windows. Tapi sekarang semua sudah berbeda..jauh berbeda.. Pengalaman saya mencoba beberapa distro linux membuktikan bahwa proses instalasi linux lebih mudah daripada windows (ingat, install windows lho, bukan install software di windows). Untuk lebih jelasnya, saya jelaskan per poin saja. BIOS sudah disetting agar boot pertama dari cd/dvd .
Install windows:
1. masukkan cd (bajakan)
2. lakukan proses partisi
3. tunggu beberapa saat, windows akan mengkopi file-file instalasi yang penting
4. ERROR!!! ganti cd
5. setelah error beberapa kali, akhirnya bisa, masuk ke gui installer
6. masukkan serial number (dulu saya sampai apal serial number ini...)
7. masuk windows
8. biasanya windows langsung meminta install bermacam-macam driver
9. cd driver vga card ilang, driver soundcard cd nya rusak, cd driver modem ntah kemana
10. mulai stress karena resolusi layar salah, tambah ngga bisa dengerin musik
11. karena ada kerjaan harus ngetik, pake program bawaan windows (wordpad) tidak mencukupi
12. nyari cd driver + office ke rental, ternyata rental tutup sedang ada razia software bajakan..
13. nangis..sambil misuh-misuh dalam hati..
seperti itulah kira-kira pengalaman saya dalam menginstall windows (xp). Berikutnya pengalaman install linux (kemarin install ubuntu 8.04)
1. masukkan cd
2. sistem langsung booting masuk ke desktop ubuntu (live cd)
3. ada icon di desktop bertuliskan install, di klik
4. sistem melakukan instalasi, dengan mengikuti petunjuk install tinggal klik next next
5. selesai, masuk ke desktop
6. ngga perlu setting apa-apa, apalagi install driver karena semuanya sudah terdeteksi secara otomatis
7. mau ngetik tinggal klik openoffice..
nah, ternyata jauh lebih mudah install linux..
Pengalaman di atas mungkin saja subyektif. Saya yakin sebagian besar teman-teman saya pasti tetep bilang lebih mudah install windows. Apalagi sekarang ini kalau kita beli komputer biasanya sudah diinstall windows (ntah bajakan atau original). Meskipun begitu, saya optimis, kalau dibiasakan pake linux, baru terasa kemudahannya. Dulu saat masih pake xp, kadang saya dipusingkan dengan virus (brontok sialan..). Belum lagi kebiasaan defrag dan install ulang beberapa bulan sekali. Semenjak beralih ke linux, saya ngga pernah lagu ngurusin yang begituan. Tinggal nyalain, jalan terus..
Senin, 01 September 2008
Indonesian entertainment (sucks)..
Saya ini bukan penggemar televisi. Saya bahkan tidak ingat kapan terakhir saya nonton acara televisi Indonesia. Di rumah, saya berlangganan tivi kabel, dan meskipun ada channel tivi Indonesianya, saya ngga pernah nonton. Untuk urusan berita, saya lebih seneng baca di internet atau di koran. Saya memang bukan penggemar televisi, tapi saya tetep nonton tivi, terutama pas acara favorit saya di channel Discovery atau National Geographic. Selain saya, keluarga di rumah semuanya penggemar acara televisi. Ibu saya penggemar setia sinetron, adek saya mantengin terus MTV dan Channel V, sedang bapak saya seneng nonton HBO atau Cinemaxx. Jadi ya gitu, nda ada acara nonton bareng, karena memang kesukaannya berbeda-beda.
Omong-omong soal acara tivi, terus terang saya penasaran dengan acara tivi di Indonesia. Seperti apakah acaranya? Saya masih inget dulu saya sering (secara tidak sengaja) nonton acara sinetron laga di salah satu stasiun tivi Indonesia yang suara pemainnya didubbing dan efek 3dnya ancurr. Yang main juga itu-itu saja orangnya, dan ditengah-tengah ceritanya biasanya ada nyanyian ala film India. Trus monster-monsternya juga ngga masuk akal. Saya lebih menikmati nonton power rangers atau ksatria baja hitam, karena efeknya memang jauh (bangettt) lebih bagus. Tapi.. rupanya sinetron model seperti ini banyak penggemarnya..(sigh..).
Saya jadi heran dengan selera orang Indonesia, terutama terhadap seni. Seperti saat ini, film Indonesia tengah bangkit, tapi sayangnya kebangkitan ini ditunggangi oleh komersialisasi film yang tidak bertanggung jawab. Beberapa waktu yang lalu saya ngakak ngerti ada film yang dibintangi oleh Dewi Persik yang berjudul "TIREN" alias "MATI KEMAREN".. Bwahahahaha..judul opo kuwi... kalo dibuat di Hollywood jadi DIE YESTERDAY.. pfhhhh.. Trus soal musik. Industri musik Indonesia juga sama, banyak band baru bermunculan tapi dengan konsep musik ala kadarnya. Tapi ko ya banyak yang seneng!! gumun tenan aku... Dulu pas saya masih abg, begitu denger lagu pasti langsung bisa menebak judul lagu dan artisnya. Semisal Gigi, Dewa 19, Slank, Jamrud punya kharakteristik musik yang berbeda. Na sekarang..? Remuk redam.. Skill ngga ada, lirik asal-asalan, konsep musik ngga jelas, nama band nya juga wagu.. (saya baru tahu ada grup musik namanya kertas..).
Selain ke waguan yang sudah saya tulis tadi, saya lihat sekarang ini para pelaku dunia entertainment juga kurang bertanggungjawab dengan acara yang mereka buat. Bikin sinetron asal-asalan, plot cerita asal comot dari luar negeri, dan tidak memperhatikan nilai-nilai moral. Ini..saya bener-bener jengkel.. Seharusnya sinetron itu bisa diklasifikasikan menurut jalan ceritanya. Janganlah anak-anak SD sudah diajari pacar-pacaran.. Kalau memang niat bikin sinetron cinta-cintaan mbok ya pemainnya yang sudah dewasa, jangan anak-anak. Gawat kalau sampai anak-anak dirumah meniru mentah-mentah adegan yang ada di sinetron. Seperti kejadian yang barusan saya alami sendiri pas tarawih di masjid. Biasa, kalau pas tarawih banyak anak-anak, main kejar-kejaran teriak-teriak bikin ribut sendiri, saya anggap masih wajar lah, namanya juga anak-anak. Tapi saya sempat kaget juga saat ada salah satu anak perempuan, masih balita lah, yang teriak sama temannya, "hayo kamu pacaran sama teman sendiri.. pacaran pacaran.." trus teriak-teriak lagi " I love you I love you.." Saya sempet mau keselek ndengernya.. Ini anak masih belum ada 5 tahun, belum sekolah sudah bilang I love you.. maak..
Saya merasa beruntung tumbuh di jaman TVRI only.. Saat itu jelas mana acara untuk anak-anak dan mana untuk orang dewasa. Dulu saya kalau nonton tivi, palingan nonton unyil (ini unyil beneran lo, bukan unyil dalam tanda kutip yang sering beredar di flash disk sebagian besar mahasiswa). Sebagian besar waktu saya juga dihabiskan bermain di luar sama teman-teman, trus kalo sudah acara dunia dalam berita (jam 9 malem) anak-anak sudah harus tidur. Entah sadar atau enggak, tapi saat itu anak-anak lebih aware kalau acara malam hari adalah acaranya orang dewasa, dan anak kecil memang ngga boleh nonton. Anak kecil punya acaranya sendiri, punya lagunya sendiri, punya idolanya sendiri.. Bagus, karena anak kecil bisa tumbuh selayaknya anak kecil, menikmati dunia tanpa terbelenggu oleh kotak ajaib yang bernama televisi..
Omong-omong soal acara tivi, terus terang saya penasaran dengan acara tivi di Indonesia. Seperti apakah acaranya? Saya masih inget dulu saya sering (secara tidak sengaja) nonton acara sinetron laga di salah satu stasiun tivi Indonesia yang suara pemainnya didubbing dan efek 3dnya ancurr. Yang main juga itu-itu saja orangnya, dan ditengah-tengah ceritanya biasanya ada nyanyian ala film India. Trus monster-monsternya juga ngga masuk akal. Saya lebih menikmati nonton power rangers atau ksatria baja hitam, karena efeknya memang jauh (bangettt) lebih bagus. Tapi.. rupanya sinetron model seperti ini banyak penggemarnya..(sigh..).
Saya jadi heran dengan selera orang Indonesia, terutama terhadap seni. Seperti saat ini, film Indonesia tengah bangkit, tapi sayangnya kebangkitan ini ditunggangi oleh komersialisasi film yang tidak bertanggung jawab. Beberapa waktu yang lalu saya ngakak ngerti ada film yang dibintangi oleh Dewi Persik yang berjudul "TIREN" alias "MATI KEMAREN".. Bwahahahaha..judul opo kuwi... kalo dibuat di Hollywood jadi DIE YESTERDAY.. pfhhhh.. Trus soal musik. Industri musik Indonesia juga sama, banyak band baru bermunculan tapi dengan konsep musik ala kadarnya. Tapi ko ya banyak yang seneng!! gumun tenan aku... Dulu pas saya masih abg, begitu denger lagu pasti langsung bisa menebak judul lagu dan artisnya. Semisal Gigi, Dewa 19, Slank, Jamrud punya kharakteristik musik yang berbeda. Na sekarang..? Remuk redam.. Skill ngga ada, lirik asal-asalan, konsep musik ngga jelas, nama band nya juga wagu.. (saya baru tahu ada grup musik namanya kertas..).
Selain ke waguan yang sudah saya tulis tadi, saya lihat sekarang ini para pelaku dunia entertainment juga kurang bertanggungjawab dengan acara yang mereka buat. Bikin sinetron asal-asalan, plot cerita asal comot dari luar negeri, dan tidak memperhatikan nilai-nilai moral. Ini..saya bener-bener jengkel.. Seharusnya sinetron itu bisa diklasifikasikan menurut jalan ceritanya. Janganlah anak-anak SD sudah diajari pacar-pacaran.. Kalau memang niat bikin sinetron cinta-cintaan mbok ya pemainnya yang sudah dewasa, jangan anak-anak. Gawat kalau sampai anak-anak dirumah meniru mentah-mentah adegan yang ada di sinetron. Seperti kejadian yang barusan saya alami sendiri pas tarawih di masjid. Biasa, kalau pas tarawih banyak anak-anak, main kejar-kejaran teriak-teriak bikin ribut sendiri, saya anggap masih wajar lah, namanya juga anak-anak. Tapi saya sempat kaget juga saat ada salah satu anak perempuan, masih balita lah, yang teriak sama temannya, "hayo kamu pacaran sama teman sendiri.. pacaran pacaran.." trus teriak-teriak lagi " I love you I love you.." Saya sempet mau keselek ndengernya.. Ini anak masih belum ada 5 tahun, belum sekolah sudah bilang I love you.. maak..
Saya merasa beruntung tumbuh di jaman TVRI only.. Saat itu jelas mana acara untuk anak-anak dan mana untuk orang dewasa. Dulu saya kalau nonton tivi, palingan nonton unyil (ini unyil beneran lo, bukan unyil dalam tanda kutip yang sering beredar di flash disk sebagian besar mahasiswa). Sebagian besar waktu saya juga dihabiskan bermain di luar sama teman-teman, trus kalo sudah acara dunia dalam berita (jam 9 malem) anak-anak sudah harus tidur. Entah sadar atau enggak, tapi saat itu anak-anak lebih aware kalau acara malam hari adalah acaranya orang dewasa, dan anak kecil memang ngga boleh nonton. Anak kecil punya acaranya sendiri, punya lagunya sendiri, punya idolanya sendiri.. Bagus, karena anak kecil bisa tumbuh selayaknya anak kecil, menikmati dunia tanpa terbelenggu oleh kotak ajaib yang bernama televisi..
Langganan:
Postingan (Atom)