Jumat, 16 Desember 2011

Menengok Keluar "Jendela"

Pertanyaan: Kira-kira, apa yang pertama kali anda lakukan ketika anda membeli sebuah pc ataupun laptop baru yang belum ada isinya (baca: sistem operasi) sama sekali? Saya yakin, kebanyakan dari kita akan menjawab “minta tolong ke mas/mbak penjual atau ke teman atau secara mandiri menginstall Windows”. Yang dimaksud menginstall windows ini tidak sekedar menginstall “OS Windows” semata, akan tetapi dibarengi dengan menginstall “teman-temannya”, semacam Microsoft Office, Corel, Photoshop, ACDsee, dan seabreg software lain yang terkadang kita sendiri tidak pernah menggunakannya. Proses menginstall Windows dan rekan-rekan ini sepertinya menjadi sebuah ritual bagi hampir sebagian besar pemilik pc atau laptop di Indonesia. Sebuah ritual yang sangat mahal, dan jika ini menjadi kebiasaan pengguna komputer di Indonesia, maka sebenarnya rakyat Indonesia jauh lebih kaya dari warga negara lain, bahkan Amerika sekalipun. Kok?
Mari kita lihat, sebenarnya seberapa mahal proses ritual tersebut.

Install Windows 7 Ultimate
Rp. 2.000.000
Install Corel Draw X5
Rp. 4.000.000
Install Adobe Photoshop CS3
Rp. 7.000.000
Install Microsoft Office 2010
Rp. 5.000.000
Total
Rp. 18.000.000

Wah, jumlah yang sangat fantastis bukan? Bisa dibayangkan, jika setiap orang yang membeli komputer menghabiskan uang sebanyak itu untuk “mengisi” komputer mereka, maka pendapatan mereka pastilah besar. Tapi ternyata tidak. Karena, di Indonesia semua itu bisa kita lakukan dengan modal enam ribu rupiah (dengan asumsi biaya menyewa satu cd Rp. 2000 dan ada promo sewa 3 bonus 1).
Ya, sebagian besar pengguna komputer di Indonesia telah sangat terbiasa menggunakan barang bajakan. Karena saya termasuk dari pengguna komputer tersebut, tentu saya termasuk dalam golongan yang terbiasa tersebut. Namun, itu dulu. Saat ini saya sedang dalam proses untuk bermigrasi ke lingkungan yang legal dan murah, bahkan gratis, yaitu ke lingkungan open source.
Ketika mendengar kata open source, orang sering mengasosiasikannya dengan linux. Dan ketika mendengar linux, sebagian besar orang akan membayangkan sebuah software yang susah dan rumit. Tidak sedikit pula pengguna komputer yang sama sekali tidak mengetahui tentang keberadaan linux. Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai linux (karena sejujurnya saya juga bukan ahli per-linux-an), namun saya akan mencoba untuk berbagi pengalaman dalam menggunakan salah satu distribusi linux. Semoga artikel yang saya susun ini bisa menghapuskan kesan susah ataupun angker dari linux, atau setidaknya sebagai sarana perkenalan para pembaca sekalian terhadap linux. Perlu diperhatikan bahwa tulisan ini dibuat bukan dengan tujuan untuk membandingkan kelemahan atau kelebihan satu sistem operasi dengan lainnya, akan tetapi untuk lebih mengenalkan sistem operasi alternatif bagi para pembaca yang ingin menggunakan software legal yang murah.

Saat ini di laptop saya terinstall sistem operasi berbasis linux yaitu Ubuntu versi 11.10. Lebih jauh mengenai ubuntu dapat dilihat di websitenya di www.ubuntu.com. Dalam artikel ini saya akan mencoba untuk memperkenalkan ubuntu kepada pembaca sekalian, termasuk didalamnya akan coba saya singgung sedikit mengenai beberapa software tambahan yang bisa mendukung pekerjaan.

Tampilan Desktop Ubuntu 11.10
Gambar diatas merupakan screenshot dari desktop ubuntu yang saya gunakan sehari-hari. Saya pribadi berpendapat bahwa saat ini desain dari desktop Ubuntu sudah bisa dibandingkan keindahannya dengan tampilan desktop dari sistem operasi lain. Para developer telah memperhatikan bahwa untuk mempopulerkan ubuntu perlu sebuah disain tampilan yang segar dan menarik.

Proses instalasi Ubuntu berbeda dengan proses instalasi Windows. Ketika kita menginstall ubuntu, kita sekaligus akan mendapatkan paket software yang berguna untuk mendukung pekerjaan tanpa harus melakukan proses instalasi tambahan. Software tersebut diantaranya adalah
  1. Libre Office: aplikasi office suite dengan fitur yang lengkap. Saat ini versi terbaru libre office adalah versi 3.4.4. Libre office memiliki kemampuan untuk membaca file-file microsoft office, baik versi 2003 (doc, ppt, xls) ataupun versi 2007 & 2010 (docx, pptx, xlsx). Kita tidak perlu menginstall linux untuk mencoba software ini karena Libre Office juga tersedia untuk Windows dan MacOS.
Tampilan Libre Office Writer
  1. Shotwell: software penampil file-file gambar / foto. Serupa dengan windows photo viewer ataupun ACDsee.
  2. Empathy: aplikasi instant messaging (IM) multiprotokol. Aplikasi ini mampu menampung akun dari berbagai media sosial seperti Yahoo!, gtalk, dan facebook.
  3. Firefox: software untuk menjelajah internet, sama persis dengan versi windowsnya
  4. Banshee & Totem Movie Player: software pemutar file audio dan video
  5. Document Viewer: software untuk membaca file pdf dan format buku digital lain.
Dan masih banyak lagi software tambahan yang membuat kita langsung bisa bekerja dengan Ubuntu.

Meskipun dalam paket instalasi Ubuntu telah disertakan beberapa software yang berguna, namun adakalanya kita perlu untuk mencari software spesifik yang sesuai dengan kebutuhan kita. Di lingkungan linux, sebagian besar software nya bersifat open source dan harganya gratis, sehingga jarang diketemukan cd yang berisi software linux. Kalaupun ada, saya sarankan anda untuk tidak membelinya, ya karena kita bisa mendapatkannya secara gratis di website developer software tersebut. Di Ubuntu, kita tidak perlu repot-repot mencari software tertentu lewat Google, karena telah disediakan sebuah aplikasi terpadu untuk mencari dan menginstall software yang kita perlukan. Aplikasi itu adalah Ubuntu Software Center (USC)


Tampilan Ubuntu Software Center
Kumpulan software yang disediakan di USC sangat lengkap. Beragam software tersedia untuk kita install, dan kebanyakan diantaranya gratis. Dalam USC, ragam software ini dikelompokkan berdasarkan fungsinya, misalkan untuk keperluan grafis, multimedia, perkantoran (office), permainan, dan sebagainya. Jadi kita tidak perlu khawatir tidak bisa menemukan software yang sering kita gunakan di Windows. Sebagai contoh, saya akan menampilkan software pengolah gambar yang ada di Linux. Kalau di Windows kita mengenal Photoshop dan Corel Draw, maka di Linux ada Gimp untuk mengedit foto dan Inkscape untuk menggambar vektor.

Tampilan GIMP

Tampilan Inkscape

Di tangan para profesional, kedua software gratisan tersebut mampu menghasilkan karya-karya yang tidak kalah bagusnya dengan hasil olahan software sejenis yang harganya cukup mahal. Jika anda tertarik untuk mempelajari, silahkan saja berkunjung ke website masing-masing

Secara umum, saya sangat menikmati bekerja menggunakan Ubuntu dan software opensource lainnya. Memang, ketika kita mencoba sesuatu yang baru dan diluar kebiasaan, kita harus melewati proses belajar lagi, dan terkadang hal itu cukup berat. Akan tetapi beratnya proses belajar itu sebanding dengan perasaan lega dalam hati karena pada akhirnya saya telah menggunakan software legal.

Saya adalah salah satu pengguna Ubuntu yang merasa puas dengan fitur yang ditawarkan. Namun tidak sedikit pula pengguna komputer yang pada akhirnya kapok untuk menggunakan sistem operasi berbasis Linux karena mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakkan. Anda punya cerita tentang sistem operasi yang pernah anda gunakan?

Tidak ada komentar: