Pertanyaan:
Kira-kira, apa yang pertama kali anda lakukan ketika anda membeli
sebuah pc ataupun laptop baru yang belum ada isinya (baca: sistem
operasi) sama sekali? Saya yakin, kebanyakan dari kita akan menjawab
“minta tolong ke mas/mbak penjual atau ke teman atau secara mandiri
menginstall Windows”. Yang dimaksud menginstall windows ini tidak
sekedar menginstall “OS Windows” semata, akan tetapi dibarengi
dengan menginstall “teman-temannya”, semacam Microsoft Office,
Corel, Photoshop, ACDsee, dan seabreg software lain yang terkadang
kita sendiri tidak pernah menggunakannya. Proses menginstall Windows
dan rekan-rekan ini sepertinya menjadi sebuah ritual bagi hampir
sebagian besar pemilik pc atau laptop di Indonesia. Sebuah ritual
yang sangat mahal, dan jika ini menjadi kebiasaan pengguna komputer
di Indonesia, maka sebenarnya rakyat Indonesia jauh lebih kaya dari
warga negara lain, bahkan Amerika sekalipun. Kok?
Mari kita lihat, sebenarnya
seberapa mahal proses ritual tersebut.
|
Install
Windows 7 Ultimate
|
Rp.
2.000.000
|
|
Install
Corel Draw X5
|
Rp.
4.000.000
|
|
Install
Adobe Photoshop CS3
|
Rp.
7.000.000
|
|
Install
Microsoft Office 2010
|
Rp.
5.000.000
|
|
Total
|
Rp.
18.000.000
|
Wah, jumlah yang sangat
fantastis bukan? Bisa dibayangkan, jika setiap orang yang membeli
komputer menghabiskan uang sebanyak itu untuk “mengisi” komputer
mereka, maka pendapatan mereka pastilah besar. Tapi ternyata tidak.
Karena, di Indonesia semua itu bisa kita lakukan dengan modal enam
ribu rupiah (dengan asumsi biaya menyewa satu cd Rp. 2000 dan ada
promo sewa 3 bonus 1).
Ya, sebagian besar pengguna
komputer di Indonesia telah sangat terbiasa menggunakan barang
bajakan. Karena saya termasuk dari pengguna komputer tersebut, tentu
saya termasuk dalam golongan yang terbiasa tersebut. Namun, itu dulu.
Saat ini saya sedang dalam proses untuk bermigrasi ke lingkungan yang
legal dan murah, bahkan gratis, yaitu ke lingkungan open source.
Ketika mendengar kata open
source, orang sering mengasosiasikannya dengan linux. Dan ketika
mendengar linux, sebagian besar orang akan membayangkan sebuah
software yang susah dan rumit. Tidak sedikit pula pengguna komputer
yang sama sekali tidak mengetahui tentang keberadaan linux. Dalam
tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai linux (karena
sejujurnya saya juga bukan ahli per-linux-an), namun saya akan
mencoba untuk berbagi pengalaman dalam menggunakan salah satu
distribusi linux. Semoga artikel yang saya susun ini bisa
menghapuskan kesan susah ataupun angker dari linux, atau setidaknya
sebagai sarana perkenalan para pembaca sekalian terhadap linux. Perlu
diperhatikan bahwa tulisan ini dibuat bukan dengan tujuan untuk
membandingkan kelemahan atau kelebihan satu sistem operasi dengan
lainnya, akan tetapi untuk lebih mengenalkan sistem operasi
alternatif bagi para pembaca yang ingin menggunakan software legal
yang murah.
Saat ini di laptop saya
terinstall sistem operasi berbasis linux yaitu Ubuntu versi 11.10.
Lebih jauh mengenai ubuntu dapat dilihat di websitenya di
www.ubuntu.com. Dalam artikel
ini saya akan mencoba untuk memperkenalkan ubuntu kepada pembaca
sekalian, termasuk didalamnya akan coba saya singgung sedikit
mengenai beberapa software tambahan yang bisa mendukung pekerjaan.
![]() |
| Tampilan Desktop Ubuntu 11.10 |
Gambar diatas merupakan
screenshot dari desktop ubuntu yang saya gunakan sehari-hari. Saya
pribadi berpendapat bahwa saat ini desain dari desktop Ubuntu sudah
bisa dibandingkan keindahannya dengan tampilan desktop dari sistem
operasi lain. Para developer telah memperhatikan bahwa untuk
mempopulerkan ubuntu perlu sebuah disain tampilan yang segar dan
menarik.
Proses instalasi Ubuntu berbeda
dengan proses instalasi Windows. Ketika kita menginstall ubuntu, kita
sekaligus akan mendapatkan paket software yang berguna untuk
mendukung pekerjaan tanpa harus melakukan proses instalasi tambahan.
Software tersebut diantaranya adalah
- Libre Office: aplikasi office suite dengan fitur yang lengkap. Saat ini versi terbaru libre office adalah versi 3.4.4. Libre office memiliki kemampuan untuk membaca file-file microsoft office, baik versi 2003 (doc, ppt, xls) ataupun versi 2007 & 2010 (docx, pptx, xlsx). Kita tidak perlu menginstall linux untuk mencoba software ini karena Libre Office juga tersedia untuk Windows dan MacOS.
![]() |
| Tampilan Libre Office Writer |
- Shotwell: software penampil file-file gambar / foto. Serupa dengan windows photo viewer ataupun ACDsee.
- Empathy: aplikasi instant messaging (IM) multiprotokol. Aplikasi ini mampu menampung akun dari berbagai media sosial seperti Yahoo!, gtalk, dan facebook.
- Firefox: software untuk menjelajah internet, sama persis dengan versi windowsnya
- Banshee & Totem Movie Player: software pemutar file audio dan video
- Document Viewer: software untuk membaca file pdf dan format buku digital lain.
Dan masih banyak lagi software
tambahan yang membuat kita langsung bisa bekerja dengan Ubuntu.
Meskipun dalam paket instalasi
Ubuntu telah disertakan beberapa software yang berguna, namun
adakalanya kita perlu untuk mencari software spesifik yang sesuai
dengan kebutuhan kita. Di lingkungan linux, sebagian besar software
nya bersifat open source dan harganya gratis, sehingga jarang
diketemukan cd yang berisi software linux. Kalaupun ada, saya
sarankan anda untuk tidak membelinya, ya karena kita bisa
mendapatkannya secara gratis di website developer software tersebut.
Di Ubuntu, kita tidak perlu repot-repot mencari software tertentu
lewat Google, karena telah disediakan sebuah aplikasi terpadu untuk
mencari dan menginstall software yang kita perlukan. Aplikasi itu
adalah Ubuntu Software Center (USC)
![]() |
| Tampilan Ubuntu Software Center |
Kumpulan software yang
disediakan di USC sangat lengkap. Beragam software tersedia untuk
kita install, dan kebanyakan diantaranya gratis. Dalam USC, ragam
software ini dikelompokkan berdasarkan fungsinya, misalkan untuk
keperluan grafis, multimedia, perkantoran (office), permainan, dan
sebagainya. Jadi kita tidak perlu khawatir tidak bisa menemukan
software yang sering kita gunakan di Windows. Sebagai contoh, saya
akan menampilkan software pengolah gambar yang ada di Linux. Kalau di
Windows kita mengenal Photoshop dan Corel Draw, maka di Linux ada
Gimp untuk mengedit foto dan Inkscape untuk menggambar vektor.
![]() |
| Tampilan GIMP |
![]() |
| Tampilan Inkscape |
Di tangan para profesional,
kedua software gratisan tersebut mampu menghasilkan karya-karya yang
tidak kalah bagusnya dengan hasil olahan software sejenis yang
harganya cukup mahal. Jika anda tertarik untuk mempelajari, silahkan
saja berkunjung ke website masing-masing
Secara umum, saya sangat
menikmati bekerja menggunakan Ubuntu dan software opensource lainnya.
Memang, ketika kita mencoba sesuatu yang baru dan diluar kebiasaan,
kita harus melewati proses belajar lagi, dan terkadang hal itu cukup
berat. Akan tetapi beratnya proses belajar itu sebanding dengan
perasaan lega dalam hati karena pada akhirnya saya telah menggunakan
software legal.
Saya
adalah salah satu pengguna Ubuntu yang merasa puas dengan fitur yang
ditawarkan. Namun tidak sedikit pula pengguna komputer yang pada
akhirnya kapok untuk menggunakan sistem operasi berbasis Linux karena
mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakkan. Anda punya cerita
tentang sistem operasi yang pernah anda gunakan?





Tidak ada komentar:
Posting Komentar